Tren QRIS 2026 di Indonesia Peluang dan Tantangan bagi UMKM
Bank Indonesia (BI) mencatat pertumbuhan pembayaran QRIS (Quick Response Code Indonesian Standard) yang sangat pesat. Sepanjang 2025 volume transaksi QRIS mencapai 15,51 miliar (naik 148,54% yoy) dengan nilai Rp 1.420,66 triliun. Tren ini berlanjut di 2026 – Januari 2026 saja sudah tercatat 1,83 miliar transaksi (naik 131,47% yoy) senilai Rp 164,48 triliun. Jumlah merchant QRIS juga terus bertambah; per Jan 2026 mencapai 43,06 juta merchant (naik 17,76% yoy), sementara pengguna aktif QRIS mencapai 59,98 juta orang (naik 7,72% yoy). BI menargetkan volume transaksi QRIS 17 miliar dan 45 juta merchant pada 2026. Dengan adopsi seluas ini, khususnya UMKM (93% merchant QRIS di H1 2025 adalah UMKM), era digitalisasi pembayaran mendorong peluang besar sekaligus menghadirkan tantangan baru.
Pertumbuhan dan Target QRIS 2026
- Akses UMKM yang luas: Data BI menunjukkan hingga Semester I-2025 terdapat ~39,3 juta merchant QRIS, 93,16% di antaranya UMKM. Hal ini menegaskan penetrasi QRIS sangat tinggi di segmen mikro-kecil.
- Capaian transaksi: Volume transaksi QRIS per 2025 mencapai 15,51 miliar transaksi (tumbuh 148,54% yoy) dengan nilai Rp 1.420,66 triliun. Pada Januari 2026 tercatat 1,83 miliar transaksi (tumbuh 131,47% yoy) senilai Rp 164,48 triliun.
- Target BI 2026: BI menargetkan 17 miliar transaksi QRIS dan sekitar 45 juta merchant di 2026. Di samping itu, BI juga memperluas kerja sama QRIS antarnegara hingga 8 mitra (termasuk Tiongkok, Korea Selatan). Ekspansi lintas negara ini diharapkan mempermudah transaksi bagi wisatawan dan perdagangan internasional.
- Inovasi QRIS Tap: BI meluncurkan fitur QRIS Tap berbasis NFC pada 2025 untuk sektor transportasi dan ritel. Teknologi ini memungkinkan transaksi nirsentuh (tap-in/tap-out) yang cepat dan aman, meningkatkan kenyamanan pembayaran massal. Fitur baru ini mendukung transformasi digital nasional, memadukan sistem pembayaran digital dengan layanan publik.
Peluang QRIS bagi UMKM
- Efisiensi operasional: Dengan QRIS, UMKM terbebas dari keharusan menyiapkan uang kembalian; semua pembayaran tercatat otomatis. Transaksi digital juga meminimalkan risiko uang palsu karena dana berpindah langsung antar rekening. Selain itu, UMKM tak perlu lagi bolak-balik ke bank untuk setor tunai – dana masuk langsung ke rekening, sehingga waktu dan biaya operasional berkurang.
- Manajemen keuangan lebih baik: Setiap transaksi QRIS terekam dalam aplikasi pembayaran secara real-time. Catatan digital ini memudahkan UMKM untuk memantau arus kas, menganalisis pola penjualan, dan mengelola stok barang dengan lebih akurat. Pencatatan otomatis juga membantu UMKM menerapkan manajemen keuangan yang lebih profesional.
- Akses pembiayaan lebih mudah: Jejak transaksi digital QRIS berperan sebagai rekam kredit UMKM. Dengan data transaksi yang konsisten dan valid, bank atau lembaga keuangan dapat menilai kelayakan UMKM lebih baik. Hal ini membuka peluang UMKM “naik kelas” dari segmen unbankable menjadi layak memperoleh pinjaman modal dan investasi untuk ekspansi.
- Perluasan pasar dan inklusi: Adopsi QRIS membuat UMKM lebih atraktif bagi konsumen modern yang terbiasa bertransaksi non-tunai. Menyediakan opsi pembayaran digital meningkatkan citra profesional dan inklusivitas UMKM. Dengan penetrasi QRIS yang terus meluas (misalnya via kampanye QRIS Jelajah Indonesia di destinasi wisata) UMKM bisa menjaring pelanggan lebih luas, termasuk wisatawan domestik maupun mancanegara. Ke depan, integrasi QRIS antarnegara (BI target 8 negara mitra) juga akan membuka peluang transaksi lintas-batas bagi UMKM dan pelancong.
- Pemasaran digital dan promosi: Banyak platform pembayaran digital dan e-wallet menawarkan promo khusus untuk pengguna QRIS. UMKM dapat memanfaatkan program kampanye dan diskon ini untuk menarik konsumen baru dan meningkatkan penjualan.
Tantangan bagi UMKM
- Literasi dan sosialisasi: Banyak pelaku UMKM yang belum sepenuhnya paham cara penggunaan dan manfaat QRIS. Rendahnya literasi keuangan digital menjadi penghambat utama adopsi teknologi pembayaran baru. Tanpa pemahaman yang memadai, UMKM enggan beralih ke transaksi digital.
- Keamanan data dan penipuan: Kekhawatiran terhadap risiko keamanan masih besar. Pelaku UMKM dan konsumen khawatir data pribadi disalahgunakan atau tertipu. Di lapangan sering terjadi kasus penyalahgunaan QRIS, misalnya oknum kasir memanipulasi nominal atau memindai kode QR ke rekening pribadi. Transparansi sistem dan edukasi keamanan sangat penting untuk membangun kepercayaan.
- Keterbatasan infrastruktur: QRIS memerlukan koneksi internet yang stabil. Di beberapa daerah, sinyal lemah atau mati listrik dapat menghambat transaksi. Selain itu, tidak semua UMKM memiliki perangkat (smartphone dengan kamera/membaca QR) yang memadai. Tantangan teknis ini perlu diantisipasi agar transaksi lancar.
- Biaya dan model bisnis: Meskipun BI menetapkan MDR (Merchant Discount Rate) rendah, sebagian UMKM masih mengeluhkan biaya tambahan transaksi digital. Ada pula persepsi bahwa biaya layanan (0,3% untuk merchant) bisa menambah beban usaha. BI menegaskan bahwa biaya tersebut tidak boleh dibebankan ke konsumen, tapi penyadaran ini perlu ditingkatkan agar UMKM merasa diuntungkan, bukan dirugikan.
- Adaptasi konsumen tradisional: Sebagian konsumen, terutama kalangan lama, masih prefer tunai. UMKM mungkin kehilangan pelanggan jika hanya menyediakan QRIS. Oleh karena itu, pelaku usaha perlu tetap sabar membangun literasi pasar sekaligus tetap melayani opsi pembayaran lain.
Dukungan Kebijakan dan Inovasi
- Kampanye inklusi digital: Pemerintah dan otoritas keuangan aktif mendorong adopsi QRIS. Misalnya, Bank Indonesia dan OJK menyelenggarakan kampanye QRIS Jelajah Indonesia (tahun 2025-2026) yang menggabungkan transaksi digital dengan wisata budaya. Program serupa (#QRISCulinaryTour, festival fintech) menekankan literasi digital dan memperluas ekosistem cashless hingga ke desa-desa.
- Fitur teknologi baru: BI meluncurkan QRIS Tap (QRIS NFC) di berbagai transportasi publik DIY pada 2025. Fitur ini memungkinkan pembayaran hanya dengan mendekatkan ponsel ke alat pemindai, sehingga transaksi massal menjadi lebih cepat dan praktis. Inovasi serupa (QRIS nirsentuh) diharapkan dikembangkan ke sektor ritel dan transportasi lain.
Foto: Peluncuran fitur QRIS Tap (pembayaran tanpa kontak) di sektor transportasi publik DIY 2025. - Ekspansi lintas-negara: BI menyiapkan implementasi QRIS Antarnegara dengan Tiongkok dan Korea Selatan pada 2026. Ini berarti wisatawan Indonesia bisa membayar pakai QRIS dengan mata uang lokal, dan sebaliknya. Integrasi semacam ini memperluas pangsa pasar UMKM di sektor pariwisata dan keramahtamahan.
- Program digitalisasi daerah: Melalui skema TP2DD (Tim Percepatan dan Perluasan Digitalisasi Daerah), pemerintah mendorong pemerintah daerah untuk mengadopsi pembayaran digital (termasuk QRIS) dalam layanan publik. Hasilnya, misalnya, Kota Batam berhasil mencapai 100% transaksi non-tunai pada belanja daerah dan pajak, dengan peningkatan cepat dalam adopsi QRIS lokal.
- Sinergi ekosistem fintech: Event Nasional seperti Festival Ekonomi Keuangan Digital Indonesia (FEKDI) dan Indonesia Fintech Summit (2025) menggabungkan OJK, BI, dan pelaku fintech untuk meningkatkan literasi UMKM. Acara ini sering meluncurkan inovasi baru (seperti QRIS Tap In/Out) dan kompetisi hackathon yang menyasar solusi bagi UMKM.
Rekomendasi bagi UMKM
- Tingkatkan literasi digital: Ikuti pelatihan dan webinar dari BI/OJK tentang QRIS. Pastikan pengelola usaha memahami fitur QRIS (statis dan dinamis) serta prinsip keamanan dasar (tidak memberikan PIN/OTP).
- Optimalkan alat pembayaran: Sediakan QRIS statis di tempat usaha (cetak kode) dan aktifkan fitur dinamis di aplikasi kasir. Siapkan koneksi cadangan (misalnya paket data ekstra atau powerbank) untuk mengatasi gangguan jaringan.
- Cek keamanan transaksi: Selalu periksa QR code resmi yang diberikan penyelenggara pembayaran. Hindari scanning QR yang mencurigakan. Bila transaksi otomatis terverifikasi, pelajari cara melakukan refund jika ada kesalahan input nominal.
- Manfaatkan data & fasilitas tambahan: Pantau laporan transaksi digital untuk analisis penjualan. Gunakan data pelanggan atau promo aplikasi pembayaran untuk meningkatkan loyalitas. Ajukan akses modal ke lembaga keuangan dengan melampirkan riwayat transaksi QRIS sebagai jaminan.
- Kolaborasi dan promosi: Aktif ikut serta dalam kampanye digitalisasi UMKM, misalnya program QRIS Mall atau QRIS Diwarung. Pasang label “Menerima QRIS” di gerai fisik dan online. Tawarkan promo menarik bagi pembeli yang menggunakan QRIS (bekerja sama dengan bank atau fintech) untuk meningkatkan volume transaksi.
- Pantau kebijakan terbaru: Ikuti informasi resmi dari BI dan OJK mengenai insentif dan regulasi QRIS (misalnya, pembebasan biaya atau program inklusi UMKM). Pastikan mematuhi ketentuan yang berlaku agar tidak dikenai sanksi (misalnya, biaya layanan tidak boleh dibebankan ke konsumen).
Dengan memahami tren QRIS 2026 serta dukungan kebijakan dan teknologi terkini, UMKM dapat mengambil peluang besar dari transformasi digital ini. Bank Indonesia dan OJK berkomitmen memperkuat ekosistem pembayaran digital, sehingga UMKM yang adaptif akan semakin kompetitif dan mampu menjangkau pasar lebih luas



